Starategi Mengidentifikasi Berita Palsu atau Hoax

Beragam informasi dari internet yang setiap detiknya bertambah dan tak terbendung lagi jumlahnya menjadikan kita sebaiknya bijak dalam memilahnya. Menurut Suler (2015) setidaknya ada tiga kategori yang menjadi kekhawatiran internet yaitu kerja sama simbiotik dalam internet, dilema kepalsuan/ keterkaitan yg dangkal (hoaks), dan distorsi realitas atau penyampingan realita. Kekhawatiran- kekawatiran tersebutlah yang perlu ditindak lanjuti.

Berdasarkan survei Asosiasi Penggunaan Jasa Internet Indoneia (APJII), 2016 kita dapat melihat data penggunaan media social di Indonesia, facebook adalah akun media social yang paling banyak dikunjungi mencapai 54% yaitu 71.6 juta, penetrasi penggunaan internet berdasarkan usia yaitu usia 10 sampai 24 tahun mendapat  prosentase 75.5% dari 132.7 juta pengguna internet selisih 0.3% dari mereka yang berusia 25 sampai 34 tahun.

Dari data di atas dapat disimpulkan bahwa masyarakat Indonesia memiliki ketergantungan terhadap internet. IFLA menyebutkan bahwa pemikiran kritis adalah keterampilan utama dalam literasi media dan informasi. Setidaknya ada 8 cara untuk mendeteksi berita bhong (Hoaks). Menurut Facione (2013) Berpikir kritis didefinisikan sebagai proses pertimbangan yang bertujuan dan reflektif untuk memutuskan apa yang harus dipercaya atau apa yang harus dilakukan. Meningkatkan kemampuan literasi digital para pengguna internet dapat menemukan , memahami, dan menilai secara kritis sebuah informasi, menjadikan kemampuan ICT sebagai fungsional (basic skill) bukan lagi operasional. 

Kehadiran Internet memang dirasa memberikan dampak yang positif dengan adanya keterbukaan akses informasi yang selalu tersaji dengan cepat, namun disisi lain memunculkan berbagai kekhawatiran dari efek negatif penggunaan media online. Dengan demikian kita perlu berpikir kritis terhadap setiap informasi yang kita terima, tidak serta merta menerima sebagai rujukan.

 

(admin)